Posted by : Warnet ChaDos-Net Kamis, 24 November 2016


ASAL USUL TERJADINYA SUNGAI KOHOIN TEMINABUAN

Terjadinya Sungai Kohoin Di TeminabuanSarwanik mengira akan turun hujan , tetapi suatu alur putih mengalir kearah perkampungan mereka.Pada zaman dahulu di suatu desa terpencil, di kampung Nahino di daerah Teminabuan Kabupaten Sorong Selatan, hiduplah seseorang laki-laki bernama Sachman. Ia tinggal di sebuah pondok di atas sebuah bukit yang dikelilingi oleh tanah yang subur. Ia hidup sebatang kara. Sachman merasa sangat senang hidup sendirian di daerahnya yang terpencil. Ia mengerjakan ladang dan kebunnya menurut kemauannya sendiri.Pada suatu hari menjelang waktu sore, ia merasa kedinginan karena seharian telah turun hujan dengan lebatnya. Sachman heran, walaupun hujan turun dengan lebat matahari tetap memancarkan sinarnya dengan terang. Yang lebih mengherankan lagi di pekarangan dan halaman sekitar rumahnya sedikitpun tidak terkena air hujan yang selebat itu.

Sachman tidak habis pikir mengapa demikian, sungguh mengagumkan yang sekaligus membanggakan perasaan hati Sachman. Cuaca begitu dingin. Sachman menyalakan api unggun dan berdiang sambil memperhatikan pemandangan alam. Sementara Sachman sedang asyik memperhatikan pemandangan alam, tiba-tiba nampak dua sosok tubuh manusia seperti menukik dari angkasa turun bersama-sama dengan curahan hujan menuju pondoknya sehingga ia dapat melihat dengan jelas rupa dan jenis dua sosok dari angkasa tersebut yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan. Yang seorang laki-laki langsung mendekati Sachman yang sedang berdiang; sedang yang perempuan enggan turun, masih tergantung pada curahan air hujan. Rupanya api pendiang yang dibuatnya cukup menarik perhatian kedua sosok manusia tersebut. Sachman menjadi sangat heran ketika laki-laki tersebut tidak dapat terbang lagi. Berkali-kali ia sudah berusaha untuk terbang tetapi selalu gagal. Berbeda dengan perempuannya, ia cukup gesit terbang membumbung tinggi ke angkasa luas, akhirnya laki-laki itu putus asa lalu berjalan menghampiri Sachman. Menyaksikan keadaan laki-laki tersebut, Sachman iba. Dengan penuh kebijaksanaan. Sachman menyambut dan mempersilahkan laki-laki tersebut masuk ke pondoknya untuk makan. Sementara makan, laki-laki tersebut menceritakan dengan menggunakan bahasa isyarat bahwa ia tidak mungkin lagi bisa terbang. Ia berharap,Sachman bisa menolong dan menerimanya untuk hidup bersama di pondok tersebut.

Ia berjanji akan membantu mengatasi semua kesulitan apapun yang mengganggu kehidupan Sachman. S Karena ia merasa sosok laki-laki dari angkasa itu tidak ada bedanya dengan manusia maka ia tidak ragu-ragu memperlakukan laki-laki tersebut seperti saudara sendiri.Hari berganti hari tak lama kemudian laki-laki angkasa itupun terbiasa dengan kehidupan manusia. Bahkan dalam banyak hal ia nampak lebih cerdik dan banyak akal dalam memecahkan masalah dan mengatasi kesulitan. Sachman merasa beruntung mendapat sahabat sekaligus menjadi saudara yang cerdik dan dapat membantu mengatasi segala kesulitan hidupnya. Ia memanggilnya dengan nama “Sarwanik” yang berarti pencetus ide gagasan. Setelah beberapa waktu lamanya Sarwanik berada di rumah Sachman mengundang banyak orang kampung datang ke rumah untuk meminta bantuan untuk memecahkan segala permasalahan dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Sebagian masyarakat kampung masih takut kepada laki-laki dari angkasa itu. Sebenarnya setelah banyak bergaul dengan masyarakat banyak, Sarwanik sudah sama seperti orang biasa. Kini timbullah keinginan Sarwanik untuk membina keluarga, beristri seperti orang kampung lainnya, namun perempuan mana yang mau diperistri oleh Sarwanik. Perempuan di daerah tersebut merasa takut.

 Hal tersebut sangat disadari oleh Sarwanik sehingga iapun berpikir bagaimana seandainya ia mengawini seekor binatang. Pada waktu ia pergi ke hutan, Sarwanik mendapatkan seekor Marmut besar berbulu indah dan berekor panjang. Ia memutuskan untuk mengawini Si Marmut tersebut. Kemudian Sarwanik pulang membawa Marmut, sambil berpikir bagaimana cara menggaulinya. Sementara ia memikirkan hal tersebut, binatang itu lepas dan lari ke hutan.Dua hari lamanya Sarwanik mencari-cari tetapi usahanya sia-sia. Pada hari berikutnya ketika Sarwanik sedang berjalan mencari Marmut ia bertemu dengan teman sekampungnya bernama Saflate. Sarwanik diundangnya untuk makan bersama di rumah Saflate. Pada waktu makan Saflate menghidangkan masakan daging Marmut.Setelah Sarwanik mengetahui bahwa yang dimakan adalah daging Marmut yang ia cari maka dengan nada yang amat sedih ia mengakui bahwa binatang tersebut adalah Marmut yang akan ia jadikan istri. Mendengar pengakuan Sarwanik, Saflate merasa iba dan berusaha menghibur.

Janji ditepati. Sarwanik berhasil memperistri perempuan sekampungnya. Sejak itu banyak orang kampung yang berkenalan dengan Sarwanik. Hampir semua orang kampung itu hormat pada Sarwanik karena dikenal sebagai orang cerdik dan suka membantu siapa saja yang memerlukan. Barang siapa menolak atau menggabaikan nasehat, pasti akan mengalami kesulitan ataupun kesusahan bahkan kecelakaan.

Pada suatu hari Sarwanik mengundang beberapa kerabat dekatnya untuk bergotong royong menganyam atap dari daun sagu untuk membangun sebuah rumah. Hari sangat panas sehingga mereka cepat merasa haus dan untuk mengatasi rasa itu, secara bergilir mereka disuruh Sarwanik untuk mengambil air di sumber mata air yang tidak jauh dari situ. Masing-masing menggunakan tabung bambu untuk menampung air. Pada saat Wasfle tiba, Sarwanik memanggilnya dan memberi nasehat seperlunya. Ujar Sarwanik “Sobat Wasfle, apabila anda akan mengambil air, harus dilakukan dengan sabar dan berhati-hati, jangan sampai dedaunan yang terapung dimata air jangan dibersihkan maupun dipisahkan. Lagi pula jangan sekali-kali mencabuti akar tumput yang tumbuh di sekitarnya sebab itu pantangan. Setiap orang tidak boleh berbuat sembarangan terhadap sumber air yang ada.” Setelah mendengar pesan Sarwanik, Wasfle segera berangkat menuju ke tempat mata air.

Sesampai di mata air, ia segera mengisi tabung bambunya, kemudia membasuh dirinya yang dirasakan sangat gerah. Tetapi karena ia merasakan kurang puas karena aliran airnya terlalu kecil maka ia mulai menyingkirkan dedaunan yang ada dan diperkirakan menghambat jalannya air. Ia lupa pada pesan Sarwanik, ia mencabuti akar-akar rumput dan mata air tersebut menjadi lebar tetapi air menjadi keruh. Wasfle menunggu air itu kembali jernih lalu mandi sepuasnya, “Alangkah sejuknya air ini,” batin Wasfle. Sesudah puas mandi Wasfle kembali ke tempat bekerja sambil membawa tabung bambu yang telah penuh berisi air bersih. Sedangkan kawan-kawan yang lain sedang sibuk menganyam atap dan pekerjaan mereka hampir selesai. Sarwanik menghitung lembaran-lembaran atap yang sudah jadi untuk tahu sudah cukup atau belum untuk membuat satu rumah. Ketika Sarwanik sedang asyik menghitung-hitung atap sambil membetulkan anyaman, tiba-tiba terdengar suara menggelagar seperti halilintar.

Mula-mula Sarwanik mengira akan turun hujan maka iapun menyuruh segera orang-orangnya untuk memasang atap agar dapat digunakan berteduh. Tetapi apa yang sebenarnya yang terjadi? Terlihatlah oleh mereka suatu alur putih membentang dari tempat mata air menyelusuri bagian-bagian tanah menurun. Jalur putih tersebut ternyata adalah arus air yang mengalir dengan derasnya dan menghanyutkan segala yang dilaluinya. Mereka terkejut sedangkan Wasfle ketakutan. Ia teringat akan perbuatannya melanggar pesan Sarwanik. Syukurlah, akhirnya mereka selamat. Arus air yang mengalir itu semakin lama semakin deras sehingga mampu menumbang-hanyutkan pohon-pohon yang besar dan binatang-binatang. Sampai sekarang air itu tampak masih terus mengalir menjadi sungai yang kini disebut sebagai Sungai Kohoin.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Entri Populer

- Copyright © WARNET CHADOS-NET - chados sangkek Templates - Powered by Chados sangkek - Designed by chados sangkek -